Sensor Yang Keterlaluan

Beberapa hari yang lalu, di sebuah group WA, saya menerima sebuah foto yang cukup konyol.  Saya katakan konyol karena foto itu menggambarkan seorang laki-laki dengan robot berbentuk manusia yang berada di belakangnya.  Sepintas tidak ada yang aneh dengan foto tersebut. Tetapi apabila kita melihat lebih dekat lagi, maka akan tampak kekonyolan tersebut. Sebuah robot dengan dada yang agak menonjol, dan………..DISENSOR!!!

robot-disensor

Wow…!!! Kekonyolan (kalau tidak dikatakan “ketololan”) apa pula ini…??? Dada robot disensor, karena dadanya agak menonjol. Oh…tidak………haruskah sampai demikian? Haruskah dada sebuah robot disensor hanya karena betuknya agak menonjol, sehingga menyerupai payudara perempuan? Saya memang tidak melihat filmnya, dan perkiraan saya adalah, robot itu kemungkinannya adalah robot perempuan. Tetapi, apa bila robot itu adalah perempuan sekalipun, apakah harus disensor?

Tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang konyol. Sama konyolnya, sewaktu kita melihat pagelaran Putri Indonesia, dan di mana mereka mengenakan kemben, ada bagian yang disensor. Hal itu merupakan hal yang amat sangat BODOH…!!! Bukankah yang namanya kemben memang sebatas dada perempuan??? Apa yang salah dengan itu? Apakah lalu budaya memakai kemben itu harus dihilangkan??? Janganlah karena ingin dicap sebagai kelompok yang taat hukum atau sopan, lalu budaya dikorbankan. Budaya itu ada sebagai salah satu kekayaan bangsa, bukan sebagai sesuatu yang diharamkan.

Sensor pada tayangan perempuan mengenakan kemben (www.brilio.net)

Budaya Indonesia terdiri dari beberapa sub budaya. Dalam budaya tersebut, tentu saja menyangkut dalam hal berpakaian. Dari yang “tertutup” hingga yang “terbuka”. Tetapi semuanya itu adalah kebudayaan asli Indonesia, di mana kita, sebagai warga Indonesia harus menghargainya. Jangan hanya karena pengaruh budaya asing yang tidak ada hubungannya dengan budaya Indonesia, maka budaya asli Indonesia dikorbankan begitu saja.

Dalam peraturan mengenai penyiaran, telah jelas dijelaskan bahwa hal yang dapat dikenakan sensor, salah satunya adalah hal yang berkenaan dengan pornografi. Dengan peraturan ini, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dada sebuah robot mencerminkan pornografi? Yang lebih parah lagi adalah, dengan disensornya para finalis Putri Indonesia yang tengah mengenakan kemben, apakah berarti, pemakaian kemben juga adalah kegiatan pornografi? Kasihan sekali, apabila demi eksistensi terhadap sesuatu yang belum jelas, lalu budaya sendiri dinomor duakan, atau malah dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas.

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Pak Iding dan Semangat Hidup

Jangan minta anak, ah. Kasian, dia juga punya anak…” itulah kalimat yang keluar dari mulut Pak Iding, sewaktu menjelaskan alasan mengapa ia berjualan mainan yang ia sebut “lele lelean”.

Namanya adalah Pak Iding. Ia kini berusia 71 tahun. Aktivitas Pak Iding sehari-harinya adalah berjualan mainan yang biasa disebut “lele lelean”. Sebutan “lele lelean” mungkin karena bentuk mainannya yang mirip lele, walaupun ada juga bentuk lain, seperti kelinci, kepiting dan kura-kura. Ia berjualan mainan ini di pinggir jalan KS Tubun 2 dari jam 7 pagi, hingga jam 6 sore.
Pak Iding mempunyai 3 orang putri, 1 telah menikah dan yang terkecil berusia 12 tahun dari istri keduanya. Istri yang pertama meninggal pada saat melahirkan.
Keluarga Pak Iding berada di daerah asal Pak Iding, yaitu di Maja. Di karenakan jarak yang cukup jauh, Pak Iding tidak setiap hari pulang ke Maja. Sehari-harinya, ia menumpang tinggal di rumah temannya yang berada di Slipi. “Lumayan hasilnya, buat makan dan nyekolahin anak”, kata Pak Iding. Ia tidak ingin membebani anaknya, walau dua anaknya telah bekerja. Selama ia masih dapat berusaha, ia akan terus berusaha, demikian kata Pak Iding. 

Baik Pak. Semangat ya Pak.

Semoga hidup Bapak dapat menjadi ilham bagi anak-anak muda lainnya, bahwa biarpun usia telah tua, tetapi semangat hidup, semangat berusaha harus tetap ada. Tidak boleh sekalipun kita menyerah…

Sang Maha Pelindung akan terus melindungi Bapak karena keuletan Bapak…

“Kerja adalah cinta yang ngejawantah. Dan jika kau tidak dapat bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan, maka lebih baik, jika engkau meninggalkan pekerjaanmu, dan mengambil tempat di depan gapura, dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan cinta”

-Sang Nabi-

Khalil Gibran

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Pentingnya Identitas Bagi Sebuah Organisasi

Manusia adalah makhluk social, di mana hal ini memiliki konsekuensi, bahwa manusia harus bersosialisasi dengan sesamanya. Di dalam bersosialisasi, manusia harus memberitahukan, siapakah dirinya. Hal ini biasa disebut sebagai identitas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, identitas mempunyai arti “ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri”. Dalam identitas ini, tercakup berbagai macam hal, di mana penulis akan membaginya menjadi dua hal, yaitu a. fisik; dan b. non-fisik. Hal-hal yang tercakup dalam fisik adalah, jenis kelamin, warna kulit, sidik jari, bentuk wajah, sampai dengan tanda lahir, dan apabila ada, tanda cacat seseorang. Sedangkan non-fisik meliputi, nama, agama (di beberapa Negara, agama biasanya tidak disertakan, karena lebih kepada masalah pribadi seseorang), sifat, sikap, perilaku, dll.

Dengan demikian, identitas dapat memudahkan kita untuk mengenal seseorang. Identitas juga memudahkan kita untuk membedakan seseorang yang satu dengan seseorang yang lainnya, bahkan dari pasangan kembar identic sekalipun. Sebagai contoh, penulis akan memberikan gambaran dari sebuah film, yang sayangnya, penulis lupa judulnya apa. Film ini menceritakan seorang anak yang berasal dari sebuah desa di kaki Gunung Bromo, yang mencari ibunya di Jakarta. Di saat anak itu telah tiba di Jakarta seorang diri, ia bertemu dengan seorang ibu penjual nasi, dan terjadilah percakapan ini (percakapan ini tidak sama persis, tetapi seingat dari penulis).

Ibu penjual nasi  : Lo ngapain ke sini?

Anak                      : Aku cari emak, Bu.

Ibu penjual nasi  : Emang emak lo siapa namanya?

Anak                      : Ya, emakku, ya emak, Bu

Ibu penjual nasi  : Ya namanya siapa?

Anak                      : Aku kurang tahu, Bu. Aku biasa panggil, ya “Emak” saja. Kalau tetanggaku biasa memanggilnya “Emak’e Gatot”

Ibu penjual nasi   : Yahhh…loe mah. Ini Jakarta, Nak. Emak mah, di sini banyak. Ada emaknya si ini, emaknya si itu. Ga bisa loe cuman bilang kalo emak loe itu, biasa dipanggil emaknya Gatot. Harus ada namanya, baru orang bisa bantu nyari.

Dari percakapan di atas, kita mengetahui bahwa identitas merupakan suatu hal yang penting dan tdak akan terlepas dari kita, ke manapun kita pergi. Berbagai macam media tersedia untuk memperkenalkan identitas kita. Dari media resmi, seperti KTP, SIM, hingga media social yang bertebaran di dunia maya. Satu hal yang mungkin terkadang kita lupa, di mana media social pun dapat menjadi media yang memperlihatkan diri kita. Orang dapat mengetahui diri kita seperti apa, dari data identitas kita, juga dari hal-hal yang kita posting di dalam media social tersebut.

Dalam suatu organisasi, hampir dipastikan bahwa mereka akan memiliki identitas tersendiri. Tidak ada suatu organisasi yang tidak memiliki identitas sama sekali. Bahkan suatu organisasi rahasia pun, tetap memiliki identitasnya masing-masing. Hal ini bukanlah hal yang mengherankan, karena bagi suatu organisasi, identitas adalah hal yang menjelaskan siapa mereka. Hal apa yang mereka kerjakan, bagaimana mereka bekerja, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, penulis akan menceritakan mengenai identitas dari sebuah organisasi, di mana penulis pernah bekerja. Dalam setiap pertemuan, terutama pertemuan yang dimaksudkan untuk memperkenalkan organisasi tersebut, ada kalimat standar yang harus selalu diucapkan, yaitu, “We are Christian humanitarian organization working to create lasting change in the lives of children, families and communities living in poverty” (kami adalah organisasi kemanusiaan Kristen yang bekerja (bersama dengan masyarakat) untuk mewujudkan perubahan dalam hidup anak, keluarga, dan masyarakat yang hidup di dalam kemiskinan). Selain kalimat tersebut, ada juga visi yang harus diingat dan dipahami oleh setiap staff. Dari kalimat-kalimat inilah, staff memperkenalkan diri secara singkat. Kemudian, apabila ada pertanyaan lebih lanjut mengenai identitas organisasi, staff akan menjelaskannya lebih detail. Mungkin akan ada pertanyaan, bagaimana mungkin setiap staff mampu menjelaskan kalimat yang sama? Hal tersebut sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Pada organisasi di mana saya pernah bekerja, setiap staff diberikan buku saku mengenai identitas organisasi. Dengan adanya buku saku ini, maka setiap staff dapat membacanya berulang-ulang. Selain itu, calon staff juga “dicuci otak” selama masa pelatihan mengenai identitas organisasi tersebut. Hal ini yang lalu membuat setiap staff seragam di dalam menjelaskan identitas organisasi tersebut.

Selain dari kalimat yang tertera, identitas suatu organisasi juga dapat berupa logo atau lambing organisasi. Lambang yang dimaksud adalah gambar atau tulisan yang dapat menggambarkan organisasi tersebut. Sebagai contoh adalah, lambang dari beberapa lembaga hukum, yang berupa Dewi Keadilan yang memegang pedang dan timbangan, dan mata yang tertutup. Mata tertutup menggambarkan bahwa hukum berlaku bagi siapapun juga, tanpa pandang bulu. Timbangan melambangkan bahwa hokum akan ditegakkan dengan seadil-adilnya. Sedangkan pedang adalah lambing pemberantasan kejahatan dan ketidak adilan. Dengan lambing ini, kita akan langsung memahami bahwa lembaga hokum itu seharusnya berjalan untuk memberantas kejahatan dan ketidak adilan dengan se adil-adilnya, tanpa memandang bulu. Apabila ternyata di dalam kenyataannya tidak demikian, maka hal itu adalah persoalan yang diciptakan oleh oknum dari lembaga yang bersangkutan.

Selain dari kalimat, gambar/lambing, ada beberapa hal lainnya yang dapat menjadi identitas sebuah organisasi, misalnya, hymne, AD/ART, dan aturan-aturan yang berlaku di dalam organisasi tersebut.

Dengan kita menjelaskan identitas organisasi, maka calon rekan kerja kita akan lebih memahami dengan siapa mereka akan bermitra. Dengan memahami siapa yang akan mereka ajak kerja sama, maka kemungkinan untuk terjadi kesalah pahaman juga akan berkurang. Selain itu, pembicaraan rencana kerja sama pun juga akan lebih singkat, karena masing-masing pihak telah mengetahui dengan siapa mereka bekerja sama. Pada titik inilah, harus dipahami bahwa identitas sebuah organisasi itu sangatlah penting. Identitas organisasi bukanlah hanya sekumpulan kata dan kalimat ataupun gambar belaka. Tetapi identitas organisasi adalah representasi organisasi itu, kepada orang yang berada di luar organisasi tersebut. Itulah sebabnya, setiap staff yang berada di dalam organisasi tersebut harus mampu untuk mengerti dari identitas organisasinya. Sebab, kalau seorang staff tidak mengerti mengenai identitas organisasinya, bagaimana orang di luar organisasi dapat mempercayai organisasi tersebut?

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Wayang Orang Bharata

Wayang Orang Bharata telah berdiri semenjak tahun 1963 dengan nama Kesenian wayang orang Panca Murti dan berpusat di gedung Realto Theather, kawasan Senen, Jakarta
Pusat, yang saat ini telah berubah nama menjadi gedung Wayang Orang Bharata.

Meski sempat pecah di tahun 1972, kelompok kesenian Wayang Orang Bharata konsisten menggelar pertunjukan wayang orang. Pada tahun 2000 hingga 2004, Bharata mengalami vakum dari kegiatan pementasan wayang orang di gedung Bharata akibat dilakukannya renovasi gedung.

Setelah renovasi gedung selesai dan Bharata kembali melakuan pertunjukan, rutin satu kali dalam seminggu di hari Sabtu malam.

Tak sulit menemukan gedung Wayang Orang Bharata. Lokasinya sangat strategis berada di deretan toko-toko di samping terminal besar bis PASAR SENEN Jakarta Pusat. Oleh pengelola dikembangkan juga sebuah kegiatan pelestarian wayang orang-dengan mendidik para anak muda yang diharapkan akan meneruskan dan melestarikan budaya ini. Sebagian besar anak muda ini adalah anak-anak dari para pemain senior Bharata. Sampai saat ini jumlah seluruh anggota yang terlibat dalam kegitan Wayang Orang Bharata 120 orang.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

“Saya Akan Mencari Karyawan…”

Aduh Kak…Ga tahan…Cape…” begitulah bunyi SMS yang diterima oleh saya, dari salah satu pemuda dampingan yang bernama Trisdayanti,yang mengeluhkan banyaknya pesanan cireng yang membludak, sehingga ia tidak sempat lagi beristirahat.

Trisdayanti, adalah satu dari beberapa siswa SMK yang didampingi IBL dalam hal wira usaha (entrepreneur). Awalnya, Trisda membantu usaha ibunya dalam hal usaha pudding. Lama-kelamaan, Trisda mencoba hal baru dari hobby yang ia sukai, yaitu memasak. Sempat terhenti usaha yang ia tekuni, karena Ujian Nasional. Setelah ujian nasional dan dinyatakan lulus dari SMKN 3 Klari, Karawang, lalu ia menekuni kembali usaha yang sempat vacuum tersebut. Awalnya ia melihat jajanan cireng yang cukup popular di kalangan anak-anak. Sebagai informasi, cireng adalah jajanan yang terdiri dari dua kata, yaitu “aCI” dan “digoRENG”. Sesuai dengan namanya, yaitu aci digoreng (cireng), maka cireng ini adalah olahan dari tepung sagu (aci) yang biasanya diberi penyedap rasa, dan lalu digoreng.

Tetapi Tris melihat bahwa apabila ia hanya menjual cireng dengan produk yang sama dengan yang dijual ditempat lain, maka ia akan tidak dapat bersaing dengan penjual lain yang sudah lebih dahulu muncul. Maka muncullah ide untuk membuat cireng dengan inovasi lain yaitu cireng dengan isi keju dan sosis. Usaha pertama ini menghasilkan pendapatan yang cukup laku keras. Tidak ingin hanya berhenti di dua varian rasa itu saja, Tris lalu membuat varian lainnya dari cireng buatannya, yaitu cireng isi daging ayam dan cireng isi sayur-sayuran. Hasilnya adalah, pemesanan cireng buatannya semakin meningkat, hingga akhirnya Trisda pun kewalahan melayani pemesanan cireng.

Melalui kegiatan mentoring yang diasuh oleh Pak Yanto Sidik, Trisda diarahkan agar tidak menambah lagi jumlah pesanan, karena Trisda masih tergolong wira usaha pemula dimana Trisda masih melakukan bisnis seorang diri, dan belum mempunyai anak buah. Selain itu, Pak Yanto Sidik juga menyarankan agar Trisda secepatnya merekrut tenaga kerja yang dapat membantunya bekerja, sehingga bisnis cireng yang dijalankannya dapat terus berjalan. “Baik Pak, saya akan mencari karyawan untuk bantu-bantu saya dalam usaha ini”, kata Tris dengan semangat.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cakalele

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera Timur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera TimurTimur

Tari Cakalele yang dipertunjukkan di saat menyambut tokoh adat di dalam Festival Juanga, Kota Maba-Halmahera TimurTimur

Cakalele adalah tarian perang asal Maluku. Para penarinya, biasanya terdiri dari kaum laki-laki yang mengenakan celana hitam, dan kain berwarna merah sambil membawa pedang dan perisai (Salawaku).

Pada saat Cakalele dimainkan, biasanya tarian ini diiringi oleh pukulan tifa dan teriakan dari para penari Cakalele.

Kain berwarna merah melambangkan keberanian, sedangkan parang dan salawaku melambangkan martabat dan harga diri yang harus dijunjung tinggi.

Tarian Cakalele biasanya diperagakan pada saat diadakan penyambutan tamu agung.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Judi Bola Guling dan Permasalahannya Bagi Anak di Kota Maba, Halmahera Timur

Saat ini tengah marak permainan bola guling di daerah Kota Maba, Halmahera Timur. Permainan bola guling ini sendiri, adalah permainan dimana kita dapat membeli kupon seharga seribu rupiah, atau kita membeli sebungkus rokok dengan harga sepuluh ribu rupiah. Setelah kita membeli kupon atau rokok itu, lalu kita taruh di atas sebuah gambar. Kemudian, bandar akan menggulingkan sebuah bola di atas sebuah papan yang berisi banyak gambar. Apabila bola tersebut lalu diam di atas gambar yang kita pilih, maka satu kupon berhadiah sebungkus rokok, dan sebungkus rokok berhadiah satu slop rokok. Dengan demikian, menang atau tidaknya mereka bergantung dari posisi dimana bola ini berada. Dengan kata lain, permainan ini dapat dikategorikan sebagai judi. Biasanya, motivasi mereka untuk mengikuti permainan bola guling ini adalah apabila mereka mendapatkan satu slop rokok, maka dapat mereka jual kembali di kios-kios yang menjual rokok. Dengan mereka menjual rokok tersebut, maka mereka berharap bahwa mereka dapat meraup keuntungan dari penjualan rokok yang mereka dapatkan itu.

Dari pantauan penulis, untuk kupon seharga seribu rupiah, biasanya dibeli oleh pemain “kelas” pemula atau orang yang ingin mendapatkan “modal” sebungkus rokok atau lebih untuk bermain dengan taruhan yang lebih tinggi lagi. Untuk orang yang cukup serius bermain, biasanya mereka tidak membawa uang dalam jumlah yang sedikit. 500 ribu adalah jumlah yang biasa untuk mereka pertaruhkan di meja bola guling. Bahkan di daerah Buli, ada seorang pemilik toko besar yang biasa membawa uang untuk sekali main, sampai dengan jumlah paling sedikit, sepuluh juta rupiah!

Permainan judi bola guling ini lalu berdampak besar bagi masyarakat di sekitar daerah lokasi judi tersebut. Ada yang dapat mengambil keuntungan, dengan cara berjualan makanan kecil di sekitar lokasi bola guling. Tetapi dampak negatif yang nampak lebih besar lagi untuk wilayah seperti Kota Maba.

Dampak negatif yang pertama adalah dalam hal ekonomi. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa tidak sedikit uang yang mereka pertaruhkan di meja judi bola guling tersebut. Apabila mereka setiap kali bermain mereka dapat menghasilkan keuntungan lebih dari “modal” judi mereka, maka tidak menjadi masalah. Tetapi bagaimana apabila mereka mendapatkan hasil yang tidak sepadan dengan modal mereka? Inilah permulaan dari permasalahan ekonomi tersebut. Puluhan, bahkan ratusan ribu rupiah uang yang mereka pertaruhkan di meja judi, seharusnya dapat mereka pergunakan untuk keperluan lainnya, seperti memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau keperluan anak-anak, seperti biaya pendidikan, dan lain-lainnya. Dengan sejumlah uang yang telah mereka keluarkan untuk keperluan judi itu, maka akan ada pemotongan untuk beberapa keperluan rumah tangga. Belum lagi adanya dampak kekerasan yang akan terjadi akibat kehilangan sejumlah uang. Tidak dapat dipungkiri bahwa sering kali terjadi kekerasan yang dilakukan oleh seorang laki-laki (disini saya tuliskan laki-laki, karena pelaku perjudian biasanya lebih banyak laki-laki dari pada perempuan) terhadap istri atau anak, karena mereka ingin melampiaskan kekesalan mereka akibat kekalahan di meja judi. Belum lagi dalam hal kriminal. Mungkin suatu kebetulan atau mungkin juga tidak, dari beberapa kali saya berbicara dengan pengendara bentor (semacam becak yang dikemudikan dengan motor), diketahui bahwa pencurian mulai merajalela, dan kejadian ini bersamaan dengan dibukanya tempat judi bola guling. Apabila hal ini adalah dampak dari adanya judi bola guling, maka dapat dipastikan bahwa judi bola guling merupakan sebab dari tindakan-tindakan pencurian yang terjadi di Kota Maba akhir-akhir ini.

Dampak negatif yang kedua adalah dampaknya terhadap anak-anak. Selain yang telah dijelaskan bahwa anak-anak dapat menjadi sasaran kekerasan orang tuanya karena mereka kehabisan uang di meja judi, mereka juga secara tidak sadar telah terampas hak-haknya sebagai anak, karena mengikuti orang tua mereka bermain judi bola guling. Di saat penulis mendatangi tempat judi bola guling, penulis tiba di lokasi pada pukul delapan malam, di mana permainan itu baru saja dimulai. Telah banyak anak-anak yang berada di lokasi bersama dengan orang tua mereka. Penulis berada di lokasi hingga pukul sepuluh malam, dan masih terlihat banyak anak-anak yang berada di lokasi itu. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa hari itu bukanlah akhir minggu, sehingga mereka harus berangkat ke sekolah keesokan harinya. Dengan kenyataan ini, maka dapat dilihat bahwa banyak anak-anak yang kehilangan waktu belajar dan kehilangan waktu beristirahat, karena harus menemani orang tua mereka berjudi. Hal ini dapat dilihat pada foto-foto yang telah penulis ambil secara sembunyi-sembunyi dengan menggunakan handphone.

Selain kehilangan waktu karena menemani orang tua mereka berjudi, hal itu juga akan berdampak pada kejiwaan mereka. Bagaimana mereka tidak akan terpengaruh untuk tidak berjudi apabila mereka semenjak kecil telah diperkenalkan dengan permainan judi tersebut, dan lebih parahnya, permainan judi itu diperkenalkan oleh orang tua mereka sendiri. Dengan si anak yang telah terbiasa melihat permainan judi yang dilakukan oleh orang tuanya, maka si anak itu akan berpikir bahwa perjudian itu adalah hal yang biasa dilakukan. Dengan demikian, apabila si anak itu telah dewasa, maka ia akan mengulangi hal yang sama dan juga kesalahan yang sama. Dampak yang paling parah adalah apabila si anak itu telah mengenal permainan ini, maka tidak mustahil apabila ia akan menjadi ketagihan bermain judi. Selain itu, dampak dari perjudian itu tidak mustahil untuk tidak menimpa si anak itu. Dari lingkungan pergaulan yang tidak sehat hingga mengarah pada tindak kriminalitas akan memungkinkan sekali untuk menimpa si anak itu. Dengan demikian, masa depan si anak itu akan menjadi suram.

Inilah kenyataan yang dihadapi oleh saya sebagai staf salah satu lembaga yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anak. Kehadiran saya dan teman-teman staf yang belum genap berusia satu tahun, tetapi telah menghadapi persoalan anak yang cukup pelik. Cukup pelik karena yang kami hadapi pada persoalan judi bola guling ini selain budaya judi yang telah mengakar cukup kuat. Dengan budaya judi yang telah mengakar cukup kuat, maka diperlukan penyadaran yang tidak mudah dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain permasalahan budaya judi, kami juga menyadari bahwa di belakang bandar judi itu pasti terdapat seseorang atau kelompok yang mempunyai kekuatan yang cukup kuat. Bahkan dari informasi yang didapat, perlindungan keamanan itu disediakan oleh beberapa orang yang duduk di lembaga pemerintahan. Dengan perlindungan dari orang-orang pemerintah, maka hal ini akan berdampak pada keselamatan staf, karena bandar yang telah membayar puluhan juta demi keamanannya (informasi didapat dari pembicaraan dengan beberapa warga Kota Maba), tentu tidak akan tinggal diam begitu saja melihat usahanya terganggu. Di sisi lain, pihak yang menerima uang itu tentu tidak ingin kehilangan “nama baiknya” sebagai pihak yang menyediakan jasa keamanan bagi kliennya. Bagi pihak itu, apabila mereka tidak dapat menyediakan keamanan, maka hal itu akan menyebabkan terhentinya “orderan” keamanan bagi pertunjukkan perjudian yang selanjutnya.

Tetapi di satu sisi, kami melihat bahwa dampak judi berdampak langsung dan tidak langsung pada kehidupan anak. Berdampak langsung karena hak belajar dan berisitirahat mereka terampas, dan berdampak tidak langsung karena hal ini akan berpengaruh pada kehidupan si anak untuk beberapa tahun kemudian. Dapat dibayangkan apabila hal ini dibiarkan terus menerus, maka yang terjadi adalah munculnya satu atau bahkan lebih generasi penjudi di Kota Maba, dan pada akhirnya anaklah yang menderita. Dengan kesadaran ini, maka kami saat ini sedang mengupayakan untuk bekerja sama dengan beberapa tokoh agama dan tokoh masyarakat yang diyakini tidak menyetujui adanya kehadiran perjudian bola guling tersebut.

Inilah tantangan bagi kami, dimana di satu sisi kami berhadapan dengan budaya judi dan kelompok-kelompok yang mempergunakan kesempatan ini untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, dan di satu sisi yang lain kami juga berhadapan dengan kenyataan bahwa visi kami adalah “untuk anak; hidup utuh sepenuhnya” tetapi yang terjadi adalah munculnya peristiwa-peristiwa yang menciptakan anak-anak tidak dapat hidup utuh sepenuhnya, dan terjadi tepat di depan mata kami. Tetapi kami mempunyai kepercayaan bahwa di setiap kebuntuan, pastilah ada pertolongan Tuhan. Selama kami mau berusaha, pasti Tuhan akan menyertai.

Kota Maba, 2 Desember 2013

ImageImageImageImageImageImageImage

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , | 1 Komentar